Perkembangan pertanian di Indonesia

Perkembangan pertanian di Indonesia– Di dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah pertanian dan bahkan mungkin kita sudah berhubungan dengan kegiatan pertanian tersebut. Akan tetapi sudahkah Anda mengetahui apa yang dimaksud dengan pertanian tersebut? Mari kita lihat perkembangan pertanian yang terjadi di Indonesia.

belum teknologi pertanian berkembang seperti yang kita alami dewasa ini, teknologi pertanian masih sangat sederhana. Mungkin sekali secara kebetulan beberapa biji-bijian yang terbuang sewaktu kaum ibu menyiapkan makanan berkecambah dan tumbuh menjadi tanaman yang menghasilkan. Kejadian seperti itu menimbulkan keinginan pada kaum ibu untuk menanam kembali sebagian biji-bijian yang mereka kumpulkan dari lapangan dan muncullah usaha bercocok tanam sebagai salah satu kegiatan pertama pertanian. Demikian pula sebagian hewan yang tertangkap sebagai hasil perburuan mungkin sekali tidak dibunuh untuk dimakan karena ada anggota keluarga yang menggunakannya sebagai permainan. Akhirnya hewan yang dipelihara itu berkembang biak dan lahirlah usaha peternakan yang pertama sebagai imbangan bercocok tanam dalam kegiatan pertanian.

Di dalam kepustakaan kuno terdapat cerita bahwa penemu kegiatan pertanian ialah Kaisar Cina Shen Nung. Ketika itu ia melihat rakyatnya senang makan daging sapi dan ayam yang diperoleh dari hasil perburuan, serta mengumpulkan buah-buahan, biji-bijian dan kacang-kacangan. Akan tetapi semakin lama rakyatnya bertambah banyak dan lingkungannya tidak dapat memberikan hasil alam yang cukup untuk mendukung kehidupan, maka ia mencetuskan gagasan membuat suatu alat pengolah tanah dari sebilah kayu yang ditajamkan dan ditempelkan pada suatu tongkat. Itulah model bajak yang pertama dan dengan bajak tersebut ia menyuruh rakyatnya mengolah tanah dan bertanam jawawut. Jawawut tidak hanya digunakan langsung sebagai makanan rakyatnya tetapi juga dapat digunakan untuk makanan sapi dan ayam.

Usaha bercocok tanam buah-buahan pertama yang tercatat dalam sejarah mungkin dapat dikemukakan melalui orang Babilonia Kuno yang telah mengetahui bahwa pohon kurma akan lebih banyak buahnya apabila semacam tepung yang dihasilkan bunga pohon yang mandul dipukul pukulkan ke tandan bunga pohon yang mampu berbuah. Pada waktu itu belum jelas bagi petani kurma bahwa pohon yang mandul itu bukannya mandul, melainkan pohon yang berbunga jantan.

Terungkapnya pengetahuan bahwa pohon kurma itu ada dua jenis, yang sekarang kita namakan berumah dua, mungkin sekali terjadi karena pada mulanya mereka memusnahkan semua tanaman yang tidak menghasilkan buah. Hal ini mengakibatkan pohon-pohon yang biasanya berbuah, berguguran putiknya, dan tahulah mereka bahwa pohon yang mereka sangka tidak berguna karena mandul itu memegang peranan penting dalam pembentukan buah. Hal itu menyebabkan naluri petani bekerja dan berusaha membuat lebih banyak bunga pohon yang “subur” dapat berubah menjadi buah dengan memukul-mukulkan tandan bunga dari pohon “mandul” ke tandan bunga pohon “subur”. Pekerjaan yang dilakukan petani ini sekaligus mengubah status pohon kurma dari sekumpulan tumbuhan yang hanya dimanfaatkan hasilnya, menjadi sekumpulan tanaman yang ditingkatkan pemanfaatan hasilnya melalui pemeliharaan. Usaha pemeliharaan terhadap makhluk hidup lain yang dilakukan manusia ini adalah ciri utama kegiatan pertanian.

Tags: